yuntango_gowes_bike_sharing

Weekend Getaway Hemat di Jakarta? Bisa Ngapain Aja?

Sebagai orang Jakarta yang mengaku sebagai traveler, gue merasa gagal karena jarang mempromosikan kota kelahiran sendiri. Padahal kalau dikulik lagi, Jakarta isinya tuh nggak cuma macet. Ternyata ada banyak tempat wisata asik dan potensial yang bisa mendatangkan banyak turis di Jakarta lho.

Nah buat yang butuh piknik, tapi nggak punya waktu dan budget kayak gue, mungkin referensi weekend getaway di Jakarta dalam 1 hari ini bisa dicoba.

Continue reading “Weekend Getaway Hemat di Jakarta? Bisa Ngapain Aja?”

Advertisements

Hal yang Disukai dan Dikagumi Terlalu Mainstream, Ini 4 Hal yang Dibenci dari Jepang

Jepang, Jepang dan Jepang. Kalau ngomong soal negara asalnya Naruto ini, pasti kebanyakan orang akan melontarkan rasa kagum dengan berbagai hal yang mereka sukai dari Jepang. Nggak bisa dipungkiri, negara ini emang punya segudang hal-hal yang membuat mereka pantas dicintai.

Banyak. Banget. Bahkan saking banyaknya mungkin kalian akan bosan. Alasannya itu lagi, itu lagi.

Karena hidup harus seimbang sama seperti yin dan yang, maka dari itu di artikel ini gue nggak akan bahas hal yang gue sukai dari Jepang, melainkan hal-hal yang dibenci dari Jepang. Beberapa hal yang akan gue beberkan berdasarkan subjektivitas, beberapa lagi kerena memang culture gap. Ya pokoknya gitu deh.

Continue reading “Hal yang Disukai dan Dikagumi Terlalu Mainstream, Ini 4 Hal yang Dibenci dari Jepang”

A Morning Story from Hat Yai

2015

“Makci! I want to take away!” Shindy memanggil kakak pelayan yang berdiri di depan etalase berisi barisan makanan beralaskan wadah lebar.

Pagi itu gue, Shindy, Nalini dan Arfi memutuskan untuk makan pagi di sebuah rumah makan berlabel halal di pinggir jalan Kota Hat Yai, Thailand Selatan.

Sambil menunjuk segelas teh manis hangat miliknya yang masih utuh, Shindy mengulang kalimatnya setelah kakak itu sampai di meja kami.

“Take away. I want to take this away.”

Kening kakak pelayan mengerut. Ia nampak bingung.

“Take away. I want to take this away.” sekali lagi Shindy mengulang kalimatnya.

Hening.

Kami bergeming. Saling memandang. Dan mencoba mengambil satu kesimpulan, mereka tidak bisa Bahasa Inggris.

“Take…. away….” Shindy masih berusaha mencari bahasa tubuh lain yg dapat menyampaikan pesan yg ia maksud kepada kakak pelayan.

“Nak bawa balik. Boleh?” tanya gue dengan harapan kakak itu mengerti Bahasa Melayu sedikit saja.

Hening.

Kami kembali saling memandang. Dan mencoba mengambil satu kesimpulan lagi, mereka tidak bisa Bahasa Melayu.

“Take away….”

“Nak bawa balik….”

Seketika kami berlomba-lomba menciptakan bahasa tubuh baru yang dapat mendeskripsikan arti dari, “Membawa pulang makanan”.

Dari mulai gerak tangan yg membentuk lingkaran, sampai memeragakan posisi tangan yg sedang menjinjing barang.

Kakak itu menggaruk kepalanya yang tertutup hijab. Keningnya makin berkerut. Wajahnya yang cantik seperti meraba sesuatu. Kemudian dengan hati-hati dia berkata, “Bungkus?”

“Nahhhhhhhhh. Bungkus!” kami serempak bersorak.

Oke fine. Sudah susah payah memeragakan ini-itu dan ternyata beliau tahu arti kata, “Bungkus”.

Sedikit kesal, gemas dan…… begitulah. Pada intinya, pagi itu kami mendapat pelajaran berharga.

“Do not underestimate people. Because everyone is good in their own way.”

Karena menghabiskan waktu dengan sahabat tidak hanya dengan bersenang-senang, tapi juga dengan belajar. Belajar dari hidup.

How to Survive in Japan – Bagian Kedua

banner3.jpg

Sebelum masuk ke dalam poin-poin inti, saya ingin minta maaf karena keterlambatan postingan ini. Lebih dari tiga bulan tentu bukan waktu yang sebentar, ya. Sekali lagi maafkan saya karena baru menengok blog yang sudah dihiasi sarang laba-laba.

Well, back to the point. Setelah di artikel sebelumnya saya sudah kasih kiat-kiat persiapan apa saja yang harus dilakukan, sesuai janji dalam artikel ini saya akan membagi kiat-kiat untuk survive ketika kamu sudah sampai di Jepang. So, check this out!

Continue reading “How to Survive in Japan – Bagian Kedua”

How to Survive in Japan – Bagian Pertama

Welcome

Jepang adalah salah satu negara tujuan wisata di dunia. Budaya, teknologi, kuliner, tata krama serta sistem transportasi yang baik membuat negera ini memiliki daya tarik tinggi. Namun begitu, kebanyakan orang Indonesia masih berpikiran bahwa melancong ke Jepang adalah suatu hal yang mewah. Di samping biaya hidup yang mahal dan perbedaan bahasa, mendapatkan izin untuk masuk negara ini pun relatif sulit. Padahal jika kamu tahu celah dan banyak membaca, melancong ke Jepang nggak selalu harus mewah dan menghabiskan uang banyak. Semua tergantung dari gaya hidup yang kamu jalani. Dan yang paling utama, mendapatkan izin masuk ke Jepang saat ini sudah tidak sesulit beberapa tahun lalu.

Buat low-budget traveller seperti saya, persiapan mengunjungi negara yang sudah jadi mimpi saya sejak kecil ini sangat penting. Mulai dari tetek bengek hingga hal besar seperti visa. Kalau kamu berencana melancong ke Jepang dan masih bingung harus mempersiapkan apa saja, saya harap tips di bawah ini bisa membantu. Sila dibaca.

Continue reading “How to Survive in Japan – Bagian Pertama”